Get Adobe Flash player

Berdasarkan data yang diperoleh Kompas.com dari Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian SMP/SMA Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, berikut daftar daftar sekolah SMP berdasarkan jumlah nilai rata-rata UN tahun pelajaran 2017/2018 untuk kategori Sekolah Negeri:

1. SMP Negeri 115 dengan total nilai 347.65
2. SMP Negeri 41 dengan total nilai 343.40
3. SMP Negeri 49 dengan total nilai 341.10
4. SMP Negeri 75 dengan total nilai 339.73
5. SMP Negeri 225 dengan total nilai 338.99

 

Sekilas Kegiatan Dies Natalis SMPN 75 Ke-50 Tahun 2018

Lima puluh tahun perjalanan SMP Negeri 75 Jakarta dalam mengabdikan diri di bidang pendidikan merupakan usia yang panjang dan matang bagi sebuah lembaga pendidikan untuk mencapai predikat nama baik dan nama besar. Kemampuan SMP Negeri 75 Jakarta dalam menjaga dan mengatur ritme dan strategi untuk terus mempertahankan kepercayaan pemerintah dan masyarakat sebagai salah satu lembaga pendidikan yang senantiasa mencetak prestasi, baik akademik maupun non akademik yang gemilang dan menghasilkan alumni yang cerdas, tangguh, dan mumpuni, di tingkat Wilayah, Provinsi hingga Tingkat Nasional.

Pada usia lima puluh tahun  ini SMP Negeri 75 Jakarta telah menyelenggarakan peringatan hari ulang tahun yang diawali dengan kegiatan Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni) yang telah dilaksananak pada tanggal, 22 – 28 Feberuari 2018 dan telah melaksanakan kegitan Pentas Seni (Pensi) yang telah terlaksana sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan yaitu pada hari  Kamis, 1 Maret 2018.  Dan menampilkan pentas atraksi seni dari perwakilan kelas sebagai wujud rasa kecintaan terhadap budaya bangsa
                                                                        Setelah melewati seleksi di
Tingkat Kotamadia Jakarta Barat untuk Lomba Cipta Dan Baca Puisi FLS2N akhirnya Salsabila Hakmam(Caca) keluar sebagai Juara 1. Saat mewakili Jakarta Barat di tingkat DKI Jakarta Caca kembali menunjukkan kepiawainnya sebagai pencipta dan pembaca Puisi hal ini dibuktikan dengan diraihnya Juara 1. Berkat usaha dan kerja keras serta mendapat pembinaan dari  Dra. Vivi Hestikawati, Caca mewakili Provinsi DKI Jakarta di tingkat Nasional bertempat di Surabaya Jawa Timur. Kami keluarga besar mengucapkan selamat buat Caca beserta guru pembimbingnya.Semoga SMPN 75 tetap menjadi yang terdepan.
     Pada Tanggal, 14 Januari 2014 Bapak Drs. H. Mas'ud Jamaluddin, M.M. resmi menggantikan Plt. Kepala Sekolah yang dijabat Ibu. Dra. Hj. Supriheni, M.M.  
    Beliau menjadi kepala SMP N 75 selama dua tahun lamanya. Selama bertugas di SMPN 75 Jakarta banyak hal positif yang telah dilakukannya. Datang ke sekolah lebih awal pulang paling akhir. Salah satunya adalah budaya menjemput siswa di pintu gerbang sekolah. 
     Selama menjabat sebagai Kepala Sekolah hampir tidak pernah sekalipun dilalui untuk menjemput peserta didik di pintu gerbang bersama ibu dan bapak guru. 
Beliau juga termasuk kepala sekolah yang memiliki sikap religius. Sehingga di SMPN 75 pada setiap hari Jum'at bertempat di lapangan dilaksanakan pembacaan Surat Yasiin, Tahlil dan Sholat Sunat Dhuha.
    Di penghujung tahun 2016 beliau beralih tugas menjadi Kepala SMP Negeri 111 di Kemanggisan Kebon Jeruk Jakarta Barat.

KAMI KELUARGA BESAR SMPN 75 MENGUCAPKAN TERIMA KASIH YANG SEBESAR-BESARNYA ATAS DEDIKASI BAPAK SELAMA DUA TAHUN DI SMPN 75 DAN SELAMAT BERTUGAS DI SMPN 111 JAKARTA SEMOGA SEMAKIN SUKSES
REGU INTI PRAMUKA SMPN 75 MENYAPU BERSIH THROPY PADA KEGIATAN LT TINGKAT KECAMATAN KEBON JERUK, SELAMAT KEPADA KAK VIVI, KAK TIMBUL, KAK ROUF DAN ADIK-ADIK PENGGALANG REGU INTI.
H. Tajudin, M.M, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan DKI Jakarta saat mengunjungi kegiatan PPDB di SMPN 75 Jakarta pada hari pertama pelaksanaan PPMB secara online, pada tanggal
25 Juni 2016.


UNTUK DAFTAR SILAHKAN KLIK GAMBAR DI ATAS

Pada hari Jum'at 2016 Tanggal, 29 April 2016 Kegiatan Tausiah dilaksanakan di halaman SMPN 75 Jakarta. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutinitas menjelang Ujian Nasional diselenggarakan.  Sebeluym acara Tausiah dilaksanakan diawali dengan amanat dari Drs. H. Mas'ud Jamaluddin, M.M. pembacaan Surah Yasin dipimpin oleh Taryo HA.S.Pd. dan dialnjutkan dengan tausiah atau siraman romani Islam oleh Ust. H. Ahmad Rosidin dari Jakarta Timur.
Orang tua peserta didik kelas IX turut menghadiri acara tausiah.  Acara ini terselenggara atas prakarsa Ibu. Hj. Mardhiah, M.Pd.I dan Ibu. Hj. Rusimah, M.Pd.I. sebagai guru Agama Islam, Semoga acara yang dilaksanakan secera sederhana ini akan membawa makna bagi peserta didik atau semua warga sekolah. Dan khusus peserta didik yang akan melaksanakan UNBK pada hari Senin, 9 Mei - 12 Mei 2016 akan mendapatkan nilai yangt terbaik.


RA. Kartini
lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. RA. Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara wanita dan pria di Indonesia. Hal ini dimulai ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara pria dan wanita pada masa itu, dimana beberapa perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan. Kartini sendiri mengalami kejadian ini ketika ia tidak diperbolehkan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Kartini sering berkorespondensi dengan teman-temannya di luar negeri, dan akhirnya surat-surat tersebut dikumpulkan oleh Abendanon dan diterbitkan sebagai buku dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Biografi Singkat Kartini
Semasa hidupnya dimulai dengan lahirnya Kartini di keluarga priyayi. Kartini yang memiliki nama panjang Raden Adjeng Kartini ini ialah anak perempuan dari seorang patih yang kemudian diangkat menjadi bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Ibu dari Kartini memiliki nama M.A. Ngasirah, istri pertama dari Sosroningrat yang bekerja sebagai guru agama di salah satu sekolah di Telukawur, Jepara. Silsilah keluarga Kartini dari ayahnya, bisa dilacak terus hingga Sultan Hamengkubuwono IV, dan garis keturunan Sosroningrat sendiri bisa terus ditelusuri hingga pada masa Kerajaan Majapahit.

Sejarah Singkat Perjuangan RA. Kartini Semasa Hidupnya

Ayah Kartini sendiri awalnya hanyalah seorang wedana (sekarang pembantu Bupati) di Mayong. Pada masa itu, pihak kolonial Belanda mewajibkan siapapun yang menjadi bupati harus memiliki bangsawan sebagai istrinya, dan karena M.A. Ngasirah bukanlah seorang bangsawan, ayahnya kemudian menikah lagi dengan Radeng Adjeng Moerjam, wanita yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura. Pernikahan tersebut juga langsung mengangkat kedudukan ayah Kartini menjadi bupati, menggantikan ayah dari R.A. Moerjam, yaitu Tjitrowikromo.

Sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya berawal ketika ia yang berumur 12 tahun dilarang melanjutkan studinya setelah sebelumnya bersekolah di Europese Lagere School (ELS) dimana ia juga belajar bahasa Belanda. Larangan untuk Kartini mengejar cita-cita bersekolahnya muncul dari orang yang paling dekat dengannya, yaitu ayahnya sendiri. Ayahnya bersikeras Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun, berarti ia sudah bisa dipingit. Selama masa ia tinggal di rumah, Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda, dimana ia kemudian mengenal Rosa Abendanon yang sering mendukung apapun yang direncanakan Kartini. Dari Abendanon jugalah Kartini kecil mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru di dalam hati Kartini, yaitu tentang bagaimana wanita-wanita Eropa mampu berpikir sangat maju. Api tersebut menjadi semakin besar karena ia melihat perempuan-perempuan Indonesia ada pada strata sosial yang amat rendah.

Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang ada di bawah asuhan Pieter Brooshoof. Kartini juga mendapatkan leestrommel, sebuah paketan majalah yang dikirimkan oleh toko buku kepada langganan mereka yang di dalamnya terdapat majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kartini kecil sering juga mengirimkan beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie. Melalui surat-surat yang ia kirimkan, terlihat jelas bahwa Kartini selalu membaca segala hal dengan penuh perhatian sambil terkadang membuat catatan kecil, dan tak jarang juga dalam suratnya Kartini menyebut judul sebuah karangan atau hanya mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca. Sebelum Kartini menginjak umur 20 tahun, ia sudah membaca buku-buku seperti De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, hasil buah pemikiran Van Eeden, roman-feminis yang dikarang oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan Die Waffen Nieder yang merupakan roman anti-perang tulisan Berta Von Suttner. Semua buku-buku yang ia baca berbahasa Belanda.

Pada tanggal 12 November 1903, Kartini dipaksa menikah dengan bupati Rembang oleh orangtuanya. Bupati yang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat ini sebelumnya sudah memiliki istri, namun ternyata suaminya sangat mengerti cita-cita Kartini dan memperbolehkan Kartini membangun sebuah sekolah wanita. Selama pernikahannya, Kartini hanya memiliki satu anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya 4 hari setelah melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun.

Pemikiran dan Surat-Surat Kartini
Wafatnya Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya karena salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku ini diterbitkan pada tahun 1911, dan cetakan terakhir ditambahkan sebuah surat “baru” dari Kartini.

Pemikiran-pemikiran Kartini dalam surat-suratnya tidak pernah bisa dibaca oleh beberapa orang pribumi yang tidak dapat berbahasa Belanda. Baru pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi translasi buku dari Abendanon yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran” dengan bahasa Melayu. Pada tahun 1938, salah satu sastrawan bernama Armijn Pane yang masuk dalam golongan Pujangga Baru menerbitkan versi translasinya sendiri dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Versi milik Pane membagi buku ini dalam lima bab untuk menunjukkan cara berpikir Kartini yang terus berubah. Beberapa translasi dalam bahasa lain juga mulai muncul, dan semua ini dilakukan agar tidak ada yang melupakan sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya itu.
sumber : KLIK DI SINI

Pada tahun 2016 ini SMP Negeri 75 menyelenggarakan lomba kostum pakaian tradisional nusantara. Kelas VII dan VIII diberikan kesempatan untuk memakai kostum pakaian nusantara. Dan yang keluar sebagai juaranya adalah :
Juara I :
Putri  : Chairunisa Azahra Kelas 7F
Putra : Sathia Marga Wicaksana Kelas 7 B
Juara II :
Putri  : Shanice Putrima Akia Kelas 7 E
Putra : Rashel Sidqi Putra Kelas 8 E
Juara III :
Putri  : Jihan Prisar Tsabitha Kelas 7 F
Putra : Dwika Firmandy Bukhari Kelas 8 F
Kepada pemenang kami ucapkan terima kasih semoga Kartini Indonesia semakin berjaya.